JAKARTA – Indonesia Institute for Social Development (IISD) merangkul insan media untuk bersama-sama aktif terlibat dalam kampanye edukasi pengendalian tembakau guna memastikan masa depan generasi milenial dan gen-Z bisa terselamatkan dari zat adiksi nikotin.

Dewan Penasehat IISD, Sudbiyo Markus mengatakan bahwa Indonesia yang sedang mengalami bonus demografi penduduknya didominasi oleh generasi muda yang dikategorikan sebagai generasi milenial dan gen-Z, harus terselamatkan dari bahaya rokok yang mengandung zat adiktif nikotin.

Dia menegaskan pentingnya peranan media dalam memberikan informasi dan penyadaran kepada masyarakat soal bahaya zat adiktif nikotin.

“Opini untuk pengendalian tembakau harus berimbang, dalam hal ini media memiliki peran yang sangat strategis untuk mendorong penguatan komitmen Pemerintah dalam kebijakan pengendalian tembakau sebagai perlindungan publik dari intervensi industri rokok. Pada pertemuan ini juga penting bagi media merumuskan kontra-narasi tentang pentingnya pengendalian tembakau bagi perlindungan publik,” kata Sudibyo dalam Diskusi Media IISD di Jakarta, Kamis (22/4).

Menurutnya, penanganan pengendalian tembakau sangat lambat perkembangannya, padahal secara nyata tembakau mengandung zat berbahaya bagi kesehatan dan juga penggunaannya dalam bentuk rokok dapat menjadi mediator penularan Covid-19.

“Kurang berimbangnya opini publik dengan Kebijakan Nasional mengakibatkan uoaya pengendalian tembakau kurang optimal. Makanya perlu ada keberimbangan dan satu persepsi antara opini publik dan Kebijakan Nasional,” ungkap Sudibyo

Dia juga menyesalkan keterlibatan perusahaan industri rokok yang secara agresif menjadi sponsor berbagai kegiatan publik, seperti yang terjadi di bidang olah, seni budaya dan bahkan dunia pendidikan.

Pengajar di FISIP UPN Veteran Jakarta, Dewanto Samodro juga menegaskan pentingnya kampanye pengendalian tembakau dari media dan para influencer.

Menurutnya, beberapa media sudah cukup komprehensif dalam memberitakan pengendalian tembakau di Indonesia. Namun, masih terdapat asumsi dan informasi tentang pengendalian tembakau dalam berita yang kurang berimbang antara ranah opini publik dan kebijakan nasional.

Dia juga menilai media massa sebagai media informasi, pedidikan, hiburan, dan kontrol sosial harus diletakkan di atas fungsi pers sebagai lembaga ekonomi.

“Untuk itu, pentingnya kampanye kreatif milenial pengendalian tembakau agar generasi muda yang menjadi sasaran utama perokok pemula di Indonesia bisa terkendali,” pungkasnya.